Dear, Diare
Saya sedang malas menulis dengan baik. Saya kesal. Saya mau meracau. Suasana hati saya kacau balau. Belakangan saya sadar bahwa apa yang membuat saya kesal adalah hal yang sepele. Namun, saya tetap mengutuk perlakuan semacam itu. Dengan sepenuh hati, saya berharap bahwa saya tidak akan pernah melakukan hal serupa kepada orang lain.
Tertulis di
jadwal saya, bahwa hari ini saya diharuskan untuk membuat tugas yang saya pikir
akan sangat menyenangkan. Dan memang menyenangkan. Kami bersenang-senang. Pada
dasarnya, semua berjalan dengan cukup baik. Tidak ada kendala yang begitu
berarti untuk pekerjaan kami.
Hal buruk
datang di waktu yang tidak saya sangka-sangka; waktu istirahat. beberapa kawan
saya pergi mencari makan, tapi saya dan beberapa kawan yang lain berdiam di
tempat. Saya memilih untuk mencari tempat duduk paling nyaman yang dapat saya
temukan. Tepat setelah merasa nyaman, saya mengeluarkan papan tulis kecil dan
spidol untuk menggambar. Di antara gambar kucing berbadan nanas dan sapi
berbadan DAMRI yang saya lukis, saya menulis dua bait cerita pendek tentang dua
makhluk itu. Satu kawan saya yang keren meminta papan tulis saya dengan
baik-baik. Dia bilang dia mau lihat hasilnya. Dia bilang kalau ceritanya bagus.
Dia suka. Lalu dia kembalikan dengan keren pula. Sungguh suasana yang tenang
dan asyik bukan? Namun dari sini suasana hati saya menurun drastis.
Kawan saya yang
lain, yang baru kembali entah dari mana itu, menghampiri saya dan
sekonyong-konyong meminta papan tulis saya. Saya kasih lah karena saya kira dia
juga mau membaca. Namun, ternyata dia malah menghapus apa-apa yang sudah saya
tulis sambil bilang dengan begitu mudah, “Bukannya dikeluarin dari tadi. Butuh.”
Melihat buah
tangan saya yang sudah dihapus sebagian, saya lantas angkat suara, “Jangan!
Jangan yang itu!”
“Lah!?
Tanggung ini,” Saya diam dan memasang muka masam. Kawan saya yang keren juga terlihat
heran tapi tanpa intervensi. Lantas si perampas papan tulis itu melanjutkan
menghapus segalanya sambil bilang, “Lagian, ini kan, lu bisa bikin lagi kan.
Nanti tulis lagi aja.”
Padahal mau
bagaimana pun, itu kan karya saya; anak saya. Barangkali, kalau dia pikir tulisan
saya jelek pun, tidak usah sampai dihapus apalagi kalau saya sudah menolak,
kan? Saya pantas sedih akan hal ini, kan?
Saya harap
saya tidak akan pernah melakukan hal serupa terhadap orang lain. Saya harap
saya tidak akan pernah tidak mengucapkan kata maaf jika saya berbuat salah. Saya
harap saya tidak akan pernah tidak mengucapkan terima kasih jika saya
dipinjamkan sesuatu. Saya harap saya akan senantiasa menghargai karya orang
lain. Namun yang lebih penting, saya bangga pada diri saya sendiri. Saya bangga
karena saya dapat menahan untuk tidak melayangkan pukulan saya tepat di
wajahnya yang menyebalkan itu.
Bandung, 5
September 2023
Saya menyadari
bahwa saya tidak suka mengambil inisiatif. Terutama jika inisiatif yang saya
ambil melibatkan kepentingan orang lain. Saya tidak suka repot-repot untuk
kepentingan orang lain.
Di saat yang bersamaan, saya sulit untuk percaya kepada orang lain─terutama yang tidak saya kenali secara personal. Saya tidak suka menggantungkan diri saya kepada orang lain─terutama kepada yang tidak memberikan kesediaannya untuk dijadikan tempat bergantung. Walau melelahkan, ada secercah kepuasan yang saya rasakan jika sesuatu berjalan sesuai dengan keinginan saya.
Sebagai konsekuensi, saya menjadi lemah dalam pekerjaan tim. Saya akan lebih baik jika diberikan pekerjaan individu yang mana saya hanya bisa bergantung kepada diri saya sendiri. Sulit untuk bekerja secara maksimal jika saya menyadari ada kekurangan yang bisa diminimalisir jika saya turun tangan. Yang membuat saya bingung adalah, apakah ini kutukan atau anugerah? (Sepertinya kutukan)
Saya tidak
hidup sendirian. Saya hidup di bumi bersama jutaan manusia lain. Saya harus
bisa bekerja sama bersama mereka. Harus.
Bandung, 6
September 2023
Komentar
Posting Komentar