Belalang Kok Bisa Bicara?
“Tikus Tanah pemurung itu adalah pacarku!” Pekik Belalang kepada sahabatnya.
“Itu kan menurut kamu. Mau bagaimanapun,
dia problematik,”
Timpal Ulat Bulu─sahabat karib Belalang─sambil menggerutu, “dan pesimistik, dan membosankan, dan
keras kepala, dan kamu jadi repot.”
“Dan cantik,” Potong Belalang sambil tersipu. Dia
membayangkan wajah pacarnya (yang menurut banyak orang biasa-biasa saja).
Ulat Bulu naik pitam. Kalau Ulat Bulu punya tangan,
dia bersumpah bahwa dia akan meninju Belalang kuat-kuat tepat di wajahnya. Lalu
dia akan makan bubur ayam karena sekarang dia jadi punya tangan. Kamu harus
tahu bahwa faktanya, bubur ayam tidak terbuat dari ayam yang dihancurkan.
Sedikit mengecewakan.
“Kamu tidak membantu, ah, Bangsat!” Umpat belalang sebelum
dia pergi meninggalkan Ulat Bulu. Belalang melompat-lompat di lapangan golf.
Menyendiri. Sepi.
“Hei!” Sapa Kepik. Memecah sepi. Kepik memeluk Belalang.
Erat. Sangat erat.
“Hei,” Jawab Belalang.
Belalang tidak pernah keberatan. Kepik boleh peluk Belalang.
Kadang, adakalanya, sesekali, Belalang sedikit gusar karena dia tidak pernah memeluk
Kepik. Kata Belalang, dia sudah punya pacar. Semoga Kepik tidak keberatan. Atau
muram. Atau sedih. Belalang benci membuat seseorang bersedih.
Tapi belalang harus pergi. Sudah hampir gelap.
Belalang harus menemui Tikus Tanah. Bertemu untuk duduk dan menceritakan kisahnya
setelah bertualang seharian. Berbicara panjang lebar untuk diberi sedikit
tanggapan. Belalang menobatkan dirinya sebagai makhluk (setidaknya hewan)
paling bahagia saat melakukan hal tersebut.
“Cukup seru, bukan? Lain kali, aku akan ajak kamu
kalau kamu punya waktu. Dan kalau aku punya uang.” Tutup Belalang di akhir
kisahnya. “Kamu? Hari ini ngapain aja?”
“Gak ngapa-ngapain. Cuma nonton sirkus dan tidur.
Tidur lama sekali. Gila.” jawab Tikus Tanah yang wajahnya penuh gelisah (memang
selalu seperti itu).
“Kalau aku pulang, kamu akan apa?”
“Nonton sirkus. Mungkin.”
Belalang tersenyum kepada pacarnya, “Lebih suka nonton
sirkus atau bicara sama aku?”
“Tergantung mood. Sama saja.”
“Aku lebih suka bicara sama kamu lebih dari aku suka
apa pun.” Belalang tersenyum lagi.
“Ok,”
Komentar
Posting Komentar