Memupuk Kecamuk

Pernahkah kamu ingin menjadi buldoser? Sama. Saya juga tidak.

Namun, saya selalu ingin menjadi orang yang pemaaf. Maksudnya−setidaknya untuk saat ini−saya tidak bisa bilang kalau saya adalah seorang pemaaf. Sulit betul untuk jadi seperti itu. Ada iblis jahat super kuat yang harus dipukul mundur sebelum nanti saya bisa jadi pemaaf. 

Satu hal yang saya cermati, konsekuensi terburuk dari sebuah maaf yang terbelenggu adalah dendam. Sementara dendam hanya akan melahirkan benci. Membayangkan hidup di antara kebencian, sudah cukup untuk membuat saya gelisah. Saya tidak suka hidup merana. Mata dibalas mata, hanya akan membuat dunia jadi buta.

Saya sepakat kalau kamu bilang bahwa "maaf" tidak akan merubah masa lalu. Namun, kamu juga harus sepakat kalau saya bilang bahwa "maaf" bisa merubah masa depan. 

Apa guna memupuk kecamuk? Tidak lebih baik daripada dihantui tai.

Saya bohong kalau saya bilang bahwa tai adalah makanan khas Jawa Timur. Menurut saya−Seperti juga menurut adik saya yang masih SMPtai adalah makanan orang tolol. Tanpa bermaksud tidak sopan, tetapi sepertinya memang begitu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dia Ngengat yang Menggemaskan