Yang Mulia

    Hujan menimpa bumi seolah malang telah digelar. Hatinya biru; sebiru tomat yang dicat warna biru. Batinnya dirundung pilu.
    “Tapi aku wakil tuhan di muka bumi.”
    “Wakil setan!” sergah bapak hansip berkumis tipis.
    “Sopan sedikit! Panggil aku yang mulia!”
    “Kemuliaan sudah pergi naik bus kota.”
    “Setidaknya jangan yang ini. Warnanya membikin mata sakit. Aku jadi seperti wortel, tau?”
    “Biarlah. Wortel sehat buat mata Bapak. Barangkali boleh mengobati gelap mata.”
    Bapak hansip yang kumisnya setipis sumpah jabatan itu menarik lengan milik Yang Mulia dengan maksud mau diborgol. Tapi tangan Yang Mulia berlumuran tahi. Hampir muntah bapak hansip dibuatnya.
    “Jangan banyak protes!” kata Yang Mulia “Aku belum sempat cuci tangan.” terangnya.
    “Berisik! Jalan terus!” bantah bapak hansip.
    “Kalian ini orang-orang aneh. Orang-orang picik. Orang-orang tolol. Semuanya tolol.”
    “Pamali bicara begitu! Nanti kamu kena tangkap sama cicak. Mau?”
    “Tapi kalian yang suruh aku jadi buta.”
    “Di luar akal. Lantas?”
    “Orang buta juga perlu makan, tolol.”
    “Di luar akal. Lantas?”
    “Buta membikin aku jadi sulit makan, tau? Aku perlu disuap. Aku ini orang yang malang, Tuan” Ujar Yang Mulia sambil (sepertinya) berusaha memasang wajah penuh luka.“Orang malang dan orang maling hampir tidak ada bedanya.”
    Yang Mulia tertunduk sambil sibuk mencari-cari perkara yang mustahil. Dia mencari pembenaran.
    “Tapi aku ini Yang Mulia.”
    “Peduli apa?”
    “Asu!”
    Memang sulit buat tinggal di negara berkembang yang hanya berkembang untuk dipetik indahnya entah oleh siapa.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dia Ngengat yang Menggemaskan