Dear, Diare Sama seperti kemarin, hari ini saya lelah karena ospek FIKOM. Saya masih tidak suka dengan kegiatan duduk-duduk yang sangat lama. Punggung saya seperti mau copot. Kalau punggung saya bisa bicara, dia akan bilang, “Bang! Udah, Bang! Bawa aku pulang!” Lalu saya akan kaget dan bilang, “Kamu kan punggung. Kenapa bisa bicara?”. Namun, saya dapat mengonfirmasi bahwa hari ini memang tidak seburuk kemarin. Semua terasa lebih rapi dan sistematis. Ditambah lagi, saya sudah lebih kenal dengan rekan-rekan kelompok saya. Mereka saya kategorikan sebagai orang yang menyenangkan. Saya dibikin nyaman dengan antusiasme yang mereka bawa dari rumah. Saya harap mereka jadi presiden. Semuanya jadi presiden. Kenapa? Supaya saya bisa bilang kalau presiden itu teman kuliah saya. Kemudian saya pulang dan mengerjakan tugas. Saya merasa bersalah karena saya baru akan tidur ...
“Buka mata, bodoh!” “Sudah.” “Lebih lebar lagi!” Bentak Koala pemarah yang terlampau menyebalkan. Dia keras kepala. “Lihat! Dia adalah ngengat!” Lanjutnya. “Lantas apa?” “Kamu tidak mau kupu-kupu?” “Dia lebih cantik dari semua kupu-kupu yang pernah ada” “Buka mata, bodoh!” “Sudah.” “Lebih lebar lagi!” Saya memaksa Anda untuk percaya bahwa dia adalah Ngengat paling menggemaskan di seluruh dunia. Dan cerdas. Dan indah. Dan Anda tidak berhak...
Dear, Diare Kalau Ibu bertanya, “Kamu kuliah ngapain aja?” Saya akan jawab dengan percaya diri, “Nonton pingpong” karena memang hari ini saya menonton pertandingan pingpong antar fakultas. Partai yang tengah berlangsung adalah pertarungan antara Fakultas Ilmu Komunikasi melawan Fakultas Pertanian. Saya dibesarkan oleh kedua orang tua saya bersama nilai-nilai kejujuran. Dan kalau boleh saya jujur, pertandingan tidak seru-seru amat. Yang seru buat saya adalah kebersamaan. Saya senang berteriak dan bernyanyi bersama kawan-kawan saya. Saya merasa dekat. Saya merasa gembira. Bandung, 30 Agustus 2023
Komentar
Posting Komentar